Kontak: (021) 82566566 / 98233829

    Tafsir Surat Yasiin (Ayat 1-2)

    (Yâsîn): Allah lebih mengetahui maksudnya; maksud dari ayat ini dan juga dari ayat yang lain. Bukan itu saja, Allah Mahamengetahui atas segala sesuatu. Namun apa maksud dari kedua huruf Arab di atas?
    Di antara para ulama ada yang berpendapat bahwa makna Yâsîn adalah Yâ Insân! (wahai manusia!). Menurut mereka, huruf يا  dalam kata يس  (Yâsîn) adalah huruf nidâ` (seruan), sehingga Yâsîn adalah kata yang mengungkapkan tentang manusia. Ada juga pendapat yang berbeda beda dengan pendapat di atas. Namun pendapat mereka tidak memberikan pengetahuan apa-apa dan tidak pula mempunyai landasan. Namun, sebagian yang lain berpendapat bahwa ayat seperti di atas tidak memiliki makna, berdasarkan firman Allah,

    "Dia dibawa turun oleh ar-Rûh al-Amîn (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas." (Asy-Syuarâ [26]: 193-195)

     

    Sebenarnya, [kalau kita telisik lagi lebih dalam lagi] menurut bahasa Arab yang jelas, huruf-huruf ini tidak memiliki makna apa-apa. Jika kita menggunakan kaidah umum ini “bilisânin ‘arabiyyin mubîn” (dengan bahasa Arab yang jelas) atas setiap kalimat atau huruf di dalam Al-Qur`ân, maka kita akan mengetahui bahwa kata Yâsîn tidak memiliki makna. Apa arti huruf yâ` (ي)! Apa arti dari huruf sîn (س). Keduanya hanyalah dua huruf hijâ`iyyah yang tidak memiliki makna. Inilah pendapat yang disebutkan Ibnu Katsir dari Mujahid. Pendapat ini merupakan pendapat yang kuat, yang diperkuat oleh sebuah ayat yang telah kami sebutkan.
    Jika demikian, kita berpendapat bahwa huruf-huruf ini tidak memiliki makna. Namun, akan timbul pertanyaan. Mengapa Allah menurunkan sesuatu di dalam Al-Qur`ân suatu ucapan yang sia-sia dan tidak memiliki makna?!

    Jawabannya adalah karena ayat seperti ini memiliki tujuan yang agung. Tujuannya adalah, "Wahai orang-orang Arab! Kalian tidak dapat menentang Al-Qur`ân dan membuat ayat tandingan bagi Al-Qur`ân. Kalian tidak bisa, bukan karena Al-Qur`ân berisikan huruf-huruf atau kata-kata baru. Bahkan kata-kata itu termasuk kata-kata yang biasa diucapkan kalian. Kata-kata yang terdiri dari huruf-huruf hijâ`iyyah . Oleh karena itu, setiap surat yang diawali huruf-huruf ini hampir dipastikan bahwa setelahnya disebutkan tentang Al-Qur`ân, yang menunjukkan bahwa inilah yang dimaksudkan.

    Itulah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, az-Zamakhsyari dan para ulama lainnya. Huruf-huruf hijâ`iyyah yang terdapat di awal surat memiliki makna untuk menunjukkan kelemahan orang-orang Arab yang menentang Al-Qur`ân. Padahal huruf-huruf hijâ`iyyah itu bukan merupakan hal yang baru bagi mereka.
    Di dalam ayat kedua di atas terdapat huruf wâwu (وَ) . Adapun yang dimaksud dengan al-Qur`an dalam ayat di atas adalah Al-Qur`ân yang sedang kalian baca ini atau Kalamullâh. Kata Al-Qur`ân berasal dari kata qara`a yang berarti membaca. Karena Al-Qur`ân memang dibaca. Qarâ berarti menghimpun. Karena Al-Qur`ân dihimpun dan menghimpun. Sehingga kata Al-Qur`ân berasal dari kata yang memiliki dua makna. Al-Qur`ân berasal dari kata al-qirâ`ah yang berarti at-tilâwah. Al-Qur`ân berasal dari kata qarâ dengan arti jama'a (menghimpun). Dari kata ini (qara) timbul kata qar-yah . Karena kata qar-yah merupakan sekumpulan manusia. Sehingga Al-Qur`ân merupakan penghimpun dua makna. Al-Qur`ân dibaca, penghimpun dan dihimpun. Menjadi kata-kata yang saling melengkapi satu sama lain. Ucapan yang menghimpun berbagai kebaikan dan keshalihan.

    Dalam ayat ini terdapat kata الْحَكِيمِ. Al-Hakîm merupakan sifat dari Al-Qur`ân. Arti dari kata al-Hakîm adalah Muhkim atau Muhkam atau berarti Hâkim. Semua arti kata ini dapat diterima. Al-Qur`ân adalah Hâkim dalam arti hakim yang sebenar-sebenarnya. Karena Al-Qur`ân dijadikan rujukan. Allah berfirman,

    "Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya)." (An-Nisâ` [4]: 59)

    Allah berfirman, "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." (Al-Jâsyiyyah [45]: 29)

    Kami juga telah mengatakan bahwa Al-Qur`ân adalah Muhkim. Mengapa demikian? Karena Al-Qur`ân menjelaskan segala sesuatu secara rinci. Kalimat Allah telah sempurna kebenaran dan keadilannya.

    HIKMAH AYAT:
    Al-Qur`ân dikatakan memiliki sifat Muhkam. Karena Allah membuat Al-Qur`ân dengan jelas dan sempurna. Sehingga di dalamnya tidak terdapat pertentangan. Allah berfirman, "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`ân? Kalau kiranya Al-Qur`ân itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (An-Nisâ' [4]: 82) Jadi, pengertian Al-Qur`ân yang memiliki sifat muhkam, juga mencakup adanya pengertian hikmah dan hukum.
    Al-Qur`ân disebut sebagai kitab yang penuh dengan hikmah. Mengapa? Kita semua sama-sama tahu bahwa susunan Al-Qur`ân merupakan susunan yang baik. Setiap ayat berkaitan dengan ayat lainnya. Mungkin kita akan menyangka bahwa antara satu ayat dengan ayat yang lain tidak memiliki ikatan atau hubungan. Namun itu semua dikarenakan karena keterbatasan atau kelalaian kita. Misalnya seseorang membaca ayat,

    "Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu`." (Al-Baqarah [2]: 238)

    Ayat di atas juga diungkapkan dalam berbagai macam redaksi, lalu apa hubungan ayat yang satu dengan ayat yang lain?
    Jawaban kami adalah, tentu ada hikmahnya. Namun karena pemahaman kita terbatas dan kita malas untuk mempelajari serta merujuk ke berbagai kitab para ulama, sehingga kita tidak dapat memahaminya.

    Jadi, pengertian bahwa Al-Qur`ân itu penuh dengan hikmah sudah jelas. Penuh hikmah dalam susunannya, penuh hikmah dalam hal hukum-hukumnya. Seluruh hukum Al-Qur`ân merupakan hukum yang adil, yang sesuai dengan fitrah dan akal. Oleh karena itu, Anda tidak akan menemukan satu pun hukum Al-Qur`ân yang bertentangan dengan fitrah manusia. Semuanya sejalan dengan fitrah. Anda juga tidak akan menemukan di dalam Al-Qur`ân, satu pun yang tidak sesuai atau bertentangan dengan akal. Akal dapat menerima atau mengakui semua yang terdapat di dalam Al-Qur`ân.

    Al-Qur`ân penuh hikmah dalam hal gaya bahasanya. Ada ayat yang diturunkan dalam bentuk teguran yang keras  di saat-saatnya. Ada pula ayat yang diturunkan dalam bentuk lemah lembut, memang di saat yang tepat. Al-Qur`ân terkadang diungkapkan dengan berbagai uslub (gaya bahasa) yang asing, yang tidak dikenal dalam uslub bahasa Arab. Terkadang redaksi ayat Al-Qur`ân diungkapkan dalam bentuk berita. Kemudian secara tiba-tiba ungkapan redaksi ayat itu berubah menjadi dalam bentuk pertanyaan. Semua diungkapkan dalam bentuk larangan, kemudian berubah menjadi dalam bentuk perintah dan seterusnya. Semua ini merupakan hikmah. Terkadang Al-Qur`ân diungkapkan dalam bentuk kata ganti ketiga, tiba-tiba berubah diungkapkan dalam bentuk kata ganti pertama atau kata ganti kedua. Al-Qur`ân terkadang diungkapkan dalam sebuah uslub, lalu berubah diungkapkan dengan uslub yang lain. Ini semua dinamakan dengan istilah pengalihan (iltifât). Ungkapan-ungkapan seperti ini banyak terdapat di dalam Al-Qur`ân.

    Jadi, pengertian penuh dengan hikmah adalah Al-Qur`ân memang penuh dengan hikmah dengan segala maknanya. Al-Qur`ân penuh dengan kesempurnaan dan penuh dengan hukum.

    Kami telah menyebutkan 3 hal pengertian Al-Qur`ân. (1) Al-Qur`ân yang memiliki hikmah. (2) Al-Qur`ân yang memiliki kesempurnaan. (3) Al-Qur`ân yang memiliki hukum-hukum yang jelas. Kami juga telah menyebutkan bahwa Al-Qur`ân adalah hakim, memiliki hikmah, hukum dan kesempurnaan.
    Itulah pengertian qasam/sumpah. Allah bersumpah atas nama kitab suci-Nya yang penuh hikmah. Ini menunjukkan keagungan Al-Qur`ân dan keagungan hikmah yang terkandung, hukum dan kesempurnaannya.

    1. Penjelasan bahwa Al-Qur`ân yang mampu menundukkan seluruh manusia bukanlah ucapan orang-orang Arab. Al-Qur`ân terdiri dari huruf-huruf Arab yang biasa digunakan mereka dalam percakapan. Contohnya adalah ayat pertama dari surat Yâsîn. Ayat pertama berbunyi Yâsîn. Huruf-huruf hijâ`iyyah yang terdapat di awal surat, pada umumnya diikuti dengan penyebutan Al-Qur`ân.
    2. Keagungan Al-Qur`ân. Karena Allah bersumpah dengan menyebutkan atas nama Al-Qur`ân. Allah tidak akan bersumpah kecuali dengan sesuatu yang diagungkan. Terkadang sesuatu yang diagungkan itu, memang agung secara zatnya. Namun terkadang hanya merupakan sesuatu yang dianggap agung semata. Dianggap agung oleh pihak yang bersumpah. Seperti mereka yang bersumpah atas nama berhala Latta dan Uzza. Mereka bersumpah atas nama sesuatu yang dianggap agung dan bukan bersumpah atas nama sesuatu yang benar-benar agung. Karena Latta dan Uzza hanya sesuatu yang dianggap agung dan bukan merupakan sesuatu yang benar-benar agung. Mereka yang bersumpah atas nama Allah dan ayat-ayat-Nya. Mereka bersumpah atas nama sesuatu yang benar-benar agung, sesuatu yang diagungkan di dalam hati mereka. Allah yang diagungkan oleh kaum muslimin, memang Zat yang benar-benar agung. Demikian pula dengan Al-Qur`ân. Al-Qur`ân memang sesuatu yang benar-benar agung.
    3. Pujian terhadap Al-Qur`ân. Al-Qur`ân merupakan kitab yang penuh hikmah, sebagaimana telah kami sebutkan. Allah pun menegaskan dalam ayat-Nya, "Demi Al-Qur`ân yang penuh hikmah.” (Yâsîn [36]: 2)

    Akbar Media

    Website ini merupakan website resmi
    dari PT. Akbar Media.
    Seluruh isi tulisan, gambar,
    dan lainnya adalah hak cipta
    milik PT. Akbar Media.
    Hubungi untuk keterangan lebih lanjut.

    Top